Kamis, 05 Februari 2009

Apa Salahnya Aku Pacaran..?

Bismillah

Bagaimana sich enaknya pacaran itu? Apa dan bagaimana sich pacaran yang Islami itu?

Sering dikatakan bahwa dalam Islam tidak ada istilah pacaran dan tidak pernah pula diajarkan untuk berpacaran. Tapi mungkin kita pernah mendengar istilah ta’aruf, lalu apakah ta’aruf itu penggantinya pacaran dalam Islam? Dan apa media ta’aruf yang sebenarnya?

Senang dengan pasangan jenis dan merasa ingin memiliki mereka merupakan fitrah manusia. Bahkan hal seperti ini sangat sering sekali muncul pada usia-usia remaja, tapi bukan berarti yang sudah tidak tergolong remaja lagi tidak memiliki perasaan seperti ini. Perasaan seperti ini tetap ada.

Pacaran bukanlah budaya dari Islam, akan tetapi perbuatan seperti ini telah dipopulerkan oleh orang-orang yang telah memperturutkan hawa nafsu, maka tidak perlu kita mengikuti mereka. Dalam pacaran banyak sekali hal-hal yang melanggar dan bertentangan dengan Islam.

Dalam pacaran pasti akan terjadi khalwat, duduk berdua-duaan apalagi kalau di tempat sepi, pergi berdua, saling memandang, dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diperbolehkan dalam syari’at. Selain itu hatipun akan terganggu dan menjadi kotor karena selalu teringat, membayangkan, menghayalkan, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini akan menjauhkan kita dari mengingat Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Menjaga diri dari hal-hal tersebut merupakan kemuliaan bagi seorang muslim. Karena tidak sesuai dengan Islam, maka istilah pacaran Islami itu tidak ada.

Kalau kita melihat ada teman-teman aktivis dakwah kampus, yang antara ikhwan dan akhwat memiliki hubungan yang agak istimewa yang mereka sebut dengan pacaran Islami, dengan menjaga hal-hal tertentu mungkin, itu bukan sebuah ukuran dan standar kebenaran. Karena kebenaran itu datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, tetapi jika hal itu menyelisihi keduanya maka bisa dipastikan hal tersebut jelas menyimpang dari yang namanya kebenaran.

Adapun ta’aruf itu terkait dengan pernikahan. Kalau ada seorang ikhwan yang suka sama seorang akhwat, maka dia datang kepada walinya dan mengutarakan keinginan untuk mengenal puterinya. Atau ia mencari informasi tentang si akhwat dari sumber informasi yang terpercaya, baik dari ustadz, saudara laki-laki akhwat tadi, atau yang lain dengan syarat orang itu baik agamanya dan amanah. Kalau sudah dan dia cocok dengan akhwat tadi, baik masalah lahirnya maupun agamanya, maka dilanjutkan proses pinang-meminang. Inilah yang disebut dengan ta’aruf. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar